Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerpen dika fajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerpen dika fajar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2011

Maaf, Aku Mengukir Namamu


             “Ku tunggu kedatanganmu di patung bambu runcing”. Yah, seperti itulah pesan singkat di ponselku yang aku kirim ke salah satu kontak ponselku. Ia tengah melaksanakan KKN (kuliah kerja nyata) di Pangkep, salah satu kota di Sulawesi Selatan yang terkenal dengan ikan bolu/bandengnya.
Aku berada di Pangkep kebetulan punya jadwal melatih TARI anak SMA Perawatan Pangkep. Karena posko tempat KKNnya berada tidak jauh dari lokasi tempatku melatih, aku menyempatkan tuk janjian bertemu di Patung Bambu Runcing yang sangat terkenal di kota Pangkep.
              Di samping patung itu, ada sebuah danau yang begitu indah dan bersih. Di sana aku duduk menunggunya sehabis melatih. Hampir di sepanjang danau terdapat banyak gerobak jajanan kuliner khas Pangkep. Sangat cocok di singgahi buat para penongkrong. Rencana aku akan mengajaknya menikmati coto pangkep di tepi danau.
           Tapi …
           Tapi sudah satu jam aku menunggunya. 6 SMS yang aku kirim ke ponselnya. Dan harusnya sekarang ia sudah sampai karena lokasi KKN-nya dekat dari sini. Telponku juga nggak di terima. Ah, mungkin ia sudah di jalan. Mmm … aku akan menunggunya setengah jam lagi.
          “nunggu  siapa sih ?” Tanya sahabatku yang lagi duduk nyantai di atas motor di tepi jalan dekat danau. Aku yang lagi duduk menikmati suasana danau segera balik belakang menjawab pertanyaannya.
           “ada deh. Hehehe he he … tunggu yah 15 menit lagi. Please ?” pintaku dengan wajah manja karna aku yakin Amal akan menuruti segala kemauanku.
          Amal memang ada hati denganku, tapi seiring waktu dan keakraban yang semakin terjalin maka aku hanya mengganggapnya sebagai “sahabat”. Dan memang lebih cocok dengan kata itu.
           “oke deh”. Jawabnya dengan tersenyum.
Sepanjang danau begitu sedap di pandang mata. Tak ada satu pun sampah yang kulihat terapung. Jalanan dan tata kota juga terlihat rapi. Jarang sekali terlihat papan iklan ataupun spanduk-spanduk KAMPANYE di sepanjang jalannya.
Kembali aku melihat jam di ponselku. Setengah jam lebih telah berlalu. Sudahlah, aku Akhiri saja penantianku. Aku segera beranjak menuju salah satu warung di tepi danau. Amal kemudian menyusulku di belakang. Kuletakkan tas di atas kursi dan segera memesan 2 porsi Coto Pangkep yang rasanya sangat khas di bandingkan Coto Makassar ataupun Coto Je’neponto.
         “kenapa ? nggak jadi datang ?” Tanya amal yang duduk tepat di hadapanku di meja makan.
         “iya. Makan yuukkk !! udah laper nih. Kalau nggak cepat di isi bisa-bisa ngamuk.” Jawabku sambil memandang isi mangkuk. Minum teh dingin dan aku mulai mencampurkannya penambah rasa. Sedikit kecap, 2 sendok cabe tumis, perasan jeruk dan membelah ketupat yang rasa pandang.
“Wawww…Nikmatnya dunia.” Ucapku pada amal sambil tersenyum.

           %^&w6y!!dmakan)

         Duh, nggak bisa goyang nih gara-gara kekenyangan.
        “habis magrib baru kita balik ke Makassar.” Kata amal yang menuangkan air minum kedalam gelas kosong yang ada di depanku.
          “inikan baru jam 4. Jadi selama menunggu magrib kita kemana donk ?” tanyaku dengan alis sedikit berkerut . kulihat lagi jam di ponselku. Masih ada sekitar 2 jam lebih. Amal kembali mikir.
          “ayo, kamu ikut saja”
         “Kemana sih ?” tanyaku menuju motor terparkir.
         “pokoknya kamu ikut saja”. Kata Amal yang mulai menyalakan mesin motornya.

                                                                                       * * *

            Wah, keren banget !!!
Sepanjang  jalan terlihat gunung-gunung, tebing-tebing yang berwarna hijau. Semua berwarna hijau. Betul-betul pemandangan yang luar biasa. Sesekali kita melawati jalan yang di apik oleh dua tebing, kanan dan kiri berwarna hijau. Begitu sejuk dan damai batinku melewatinya. Tapi sayang baterei ponselku lowbhet total, jadinya gak bisa ngeabadikan keindahan ini. Mmm nyesal nggak di cash sebelum berangkat.
            Ah aku tak mau mengingat dia lagi. Aku akan berusaha menikmati perjalanan setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh.
            Akhirnya aku sampai di tempat yang tadi dirahasiakan amal. Di depanku nampak bangunan besar. Ternyata pabrik keramik. Meski aku tak melihat langsung pembuatan keramik tapi aku bisa lihat bahan dasar dari keramik dan tempat di perolehnya.
            Aku kembali memandang tebing-tebing tempat galian batu keramik. Tapi sampai kapan yah ? apa sampai tebing dan gunung-gunung ini rata dengan tanah ? ataukah sampai gedung-gedung di bumi dipenuhi tembok yang terbuat dari keramik. Tapi, inilah salah satu penghasil kota Pangkep. Akankah esok masih kutemui keindahan gunung-gunung dan tebing-tebing hijau ini ? Entahlah … semoga saja.
            Sehabis mengunjungi pabrik keramik , aku juga singgah di pabrik Semen Tonasa yang sangat terkenal di Indonesia. Aku hanya sampai di pintu gerbangnya saja, karena truk-truk yang berlalu-lalang mengundang banyak debu, akhirnya aku memutuskan tuk beranjak dari pabrik.
            Aku puas jalan-jalan hari ini. Dari pabrik aku balik dan pulang ke kota anging mamiri ”Makassar”.

… (tiba di Makassar) …

            Aktivitas seharian membuat badanku pegal banget. Saatnya memejamkan mata. Tapi sebelumnya aku melihat ponselku. Mmm … Sampai sekarang dia tak membalas SMSku. Akhh ngapain juga aku mengharap sesuatu yang tak pasti ?

                                                                                      ***

             Aku menginjakkan lagi kakiku di kota pangkep lagi. Tidak jauh dari lokasi Kegiatan penamatan siswa-siswi SMA Perawatan Pangkep , akan dan amal singgah tuk mengisi kampong tengah. Mmm aku pengen makan coto Pangkep dulu ah sebelum menonton pertunjukan anak-anak Tariku di atas panggung.
            Sambil menunggu pelayan warung menyajikan hidangan coto, aku mengambil ponsel yang berada di dalam tas ranselku. Mulai mengetik pesan singkat kemudian aku mengirimnya. Isinya seperti ini :

                                Assalamu Alaikum… dimanaq skrg ?
                        Kalau gak sibuk, kumohon datang satu jam lagi
                                        di gedung Islamic centre.
                    Nonton acara penamatan anak SMA Perawatan pangkep
                             Sekaligus aku pengen ketemu kamu.
                                                 …BaLaz…by dhika

                                                             ***
            Sudah satu jam tapi batang hidungnya tak muncul-muncul juga di gedung yang tak jauh dari posko KKNnya itu… dimana sih dia ? minimal balas ke’ SMSku supaya aku nggak terlalu menunggu. Hmm … udah deh lupain ajha. Jadi malas ingat dia.

            Selesai kegiatan itu aku melepas kepenatan di Taman Musafir. Duduk nyantai menikmati rindangnya pepohonan sambil meminum Jus Alfukad. Taman Musafir merupakan juga salah satu tempat yang sangat terkenal di kota Pangkep. Taman Musafir adalah tempat peristirahatan di tujukan bagi orang-orang yang sedang melakukan perjalanan jauh. Karna tempatnya yang lumayan luas, masyarakat pangkep juga sering menjadikan tempat ini sebagai tempat untuk berdiskusi. Memperbincangkan tentang kerja, kegiatan, bisnis, atau semacamnyalah. Sesekali juga nampak sekelompok remaja  SMA yang memakai seragam putih abu-abu,  Bercanda dan bermain seusai jam sekolah. Di samping taman Musafir tersedia kantin yang menyediakan aneka macam jus dan makanan yang paling cocok di nikmati sambil nyantai-nyantai di Taman Musafir ini.

            Bersandar di sebuah tembok Taman Musafir, sesekali memejamkan mata. Tugasku di kota ini telah usai. Tak disangka kalau aku sejauh ini. Hanya untuk mencari uang jajan, aku jauh-jauh datang dari Makassar sebagai pelatih TARI. Walau telasa lelah tapi ada kepuasan tersendiri yang aku rasakan. Ternyata begini rasanya jadi anak mandiri. Mencari penghasilan sendiri. Slama ini tak hentinya aku menyusahkan orangtua dengan meminta uang jajan lalu belanja sepuasnya. Tanpa aku sadar betapa susahnya orangtuaku mencari uang. Mmm,,, bawa oleh-oleh apa yah tuk aku bawa pulang? Mmm …(sambil mikir).

            Tiba-tiba ponselku bordering. Sebuah pesan singkat yang berisi :

                                                       “Maaf yah, aku gak balas SMSmu.
                                                                        tadi aku ketiduran
                                                                    jadi gak sempat ke sana.”

           Dengan sedikit rasa kecewa, “aku sebaiknya mengetes dia”. Cuma pengen tau sebarapa pentingnya aku bagi dia. Aku curiga kalau aku hanya di jadiin pelariannya dikala sepi menghantuinya… aku kemudian membalas SMS itu.

                                                                           “iya gak apa2.
                                                   Tanpa banyak alasan aku tunggu kamu
                                                  Di Taman Musafir dalam waktu 20 menit
                                                                         Dari sekarang.”

            “amal, tunggu dulu yah ? 20 menit ajha. Please…” pintaku.
            “iya adik”. Jawabnya sambil memasang wajah keherangan.
“nggak usah curiga gitu deh. Iya, aku lagi janjian sama seseorang. Nggak lama kok, aku cuma mau ngetes dia.”

5 menit …
10 menit …
“tunggu siapa sih dik ?” tanya Amal.
“ada deh”. Jawabku dengan melihat jam ponselku.
19 menit …
26 menit …
Dan 30 menit tlah berlalu …
“amal, yuk kita cabut dari tempat ini”. Kataku dengan menarik tangan amal.
“Tapi kita kemana ?”
“kemana kek, terserah. Pokoknya tempat yang ada jurangnya.”
“wahhh (terbahak-bahak)… jangan gila dong. Hehehehe…”. Kata amal dengan ekspresi kaget sambil memegang kepalaku.
“yah nggaklah. Emang aku cewek bodoh”.

           Kali ini aku dan amal akan mengunjungi LEANG KASSI’. Sepanjang jalan aku menikmati perbukitan yang ada di sebelah kiri dan persawahan di sebelah kananku. Sesampainya di lokasi, kolam permandianlah yang terlebih dahulu di temui sebelum gua Leang Kassi’. Permandian itu berasal dari mata air di perut gunung dan akar-akar pohon. Cukup jernih sih dan airnya lumayan dingin. Aku hanya membasuh wajahku dengan air itu lalu segera naik melintasi batu gunung untuk menuju sebuah gua.
         Leang kassi’ berada di kaki perbukitan. Lebar dan tinggi mulut gua masing-masing 24 meter dan 30 meter. Aku sempat menengok masuk kedalam gua itu. Sebagian besar lantai gua tertutup oleh bongkahan-bongkahan batu. Mungkin akibat runtuhnya langi-langit gua.
Karena aku penakut, dengan terburu-buru aku keluar dari mulut gua Leang Kassi’. Aku hanya membaca keterangan yang terpajang di sekitar gua Leang Kassi’. Di situ tertulis “Temuan Arkheologi yang terdapat pada leang ini terdiri atas lukisan di dinding gua, artefak batu berupa alat batu serpih, bilah & tatal, serta sampah dapur berupa cangkang Mollusca dan anthropoda serta tulang binatang”.
          Hmmm pengen masuk sih tapi di dalam menyaramkan bagiku. Aku kemudian memanjat batu gunung yang tidak terlalu terjal di sampang kiri dari pintu masuk gua. Sesekali Amal teriak tuk memperingati aku agar berhati-hati… aku tersenyum pada amal dan mulai mengukir 5 huruf pada dinding tebing.

Aku mengukir huruf   I   R   J   A   N

“siapa dia ?”. tanya amal.
Irjan. Anak jurusan Matematika di kampus. Meski kami seangkatan tapi di kampus kami beda jurusan. Yah, dialah rinduku yang tak kutemui di kota ini. Namanya ku ukir hanya tuk mengabadikan seenggok kerinduan. Mungkin saja esok ukiran itu akan berlumut, dan semoga saja tertutup. Sehingga aku tak lagi menanti rindu sampai menemui muaranya.

Maaf, aku mengukir namamu. Mungkin ku salah namun rinduku padamu adalah sebuah kebenaran yang tulus. Meski aku tak pernah tau, ada tidaknya keberadaan rindu itu di hatimu. Meski ku tak pernah tau, kau merindukan siapa.

Maaf, aku mengukir namamu pada biasan langit. Mungkin kusalah tapi rinduku adalah sebuah kekuatan sekaligus penyiksaan. Rindu yang terdiam seperti keinginan memetik bintang namun aku tak punya tangga setinggi langit.

Maaf, aku mengukir namamu pada desah angin. Mungkin kusalah tapi rinduku adalah gemuruh yang terkungkung dalam ruang kosong. Memporandakan pikiran dan tanpa sadar semua ruang telah terpenuhi oleh bayangmu.
Sekali lagi, MAAF AKU MENGUKIR NAMAMU …




                                                                           Makassar, 17 Agustus 2011

Sabtu, 11 Juni 2011

Melodi Cinta Violin

Melodi Cinta Violin

PART 2



            Aku kemudian meninggalkan tempat itu dan segera mencari tempat yang sunyi. Karena air mataku sudah ingin mengalir deras. Hatiku saat itu tak lagi sebening biasanya. Begitu sakit dan kekecewaanku seolah merajai. Andaikan aku punya biola sendiri aku tak mungkin meminjam seperti ini. Dan andaikan aku punya uang, aku ingin skali beli biola. aku hanya ingin mewujudkan separuh dari satu mimpi sejak kecil tentang “Biola”. Apa mungkin aku bisa sukses menjadi seorang Biolis hanya dengan pinjam biola sana-sini ? jujur, dalam hati aku kadang iri dengan orang yang memegang dan memainkan biolanya, di hatiku seolah-olah terdapat rasa yang begitu sulit kutafsirkan. Ingin skali… tapi mengapa begitu sulit mewujudkan mimpi itu. Aku hanya ingin belajar dan terus belajar sampai mimpiku terwujud.

                                                                                                * * *

            Mudah-mudahan malam ini semuanya berjalan dengan lancar. Meski aku sempat mendapatkan masalah yang lumayan menguras air mata dan sangat menguji mentalku, tapi aku tetap terus semangat dan bejuang demi mewujudkan mimpi-mimpiku. Walaupun hanya berawal dari panggung kecil dan sorot lampu yang tidak secerah rembulan.

            Langkahku kemudian menuju kesebuah panggung kecil yang berada tepat didepan penonton. Belum sampai pada biola yang berada diatas kursi panggung, langkahku tiba-tiba terhenti pas saat kakiku menginjak panggung. Mataku sejenak terpejam. Tiba-tiba kulihat diriku dalam kegelapan yang sedang memainkan biola. Hanya ada aku dan ruang kosong yang sangat gelap.

Tepukan penonton membuyarkan sgalanya dan seolah-olah mereka baru saja memberiku semangat. Air mataku tiba-tiba menetes pada badan biola yang tengah kugenggam dalam pelukan. Yah, aku harus buktikan pada semua orang kalau aku juga bisa. Walaupun hanya meminjam biola orang-orang.

Kupejamkan mata dan aku pun mulai mengesek senar biola dan memainkannya dengan penuh perasaan. Saat itu sungguh kurasakan jiwaku benar-benar menyatu pada suara biola yang tengah kualunkan.

Tepukan penonton menghampiri akhir dari pementasanku. Aku kemudian berlari menuju belakang panggung. Manangis di balik dinding-dinding panggung. Di sana aku memeluk erat biola itu. Biola milik IPASS yang sering kali kupakai tiap aku mentas.

“Trimakasih atas smuanya… Trimakasih atas kesetianmu…akankah masih ada hari esok dimana aku masih denganmu diatas panggung ? tolong temani aku meraih mimpi-mimpiku.” Tanyaku dengan memandang biola itu.

Akankah sebuah mimpi dapat mengalahkan sgalanya ? aku masih belum tahu.

            Semenjak konflik antara aku dan pacar Karin, sudah 3 bulan pula aku tak pernah menyentuh biola IPASS. Aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Jujur, aku sangat rindu pada biola itu. Tangis kecil adalah butiran kerinduanku yang jatuh pada daun kering dan bersembunyi pada seribu mimpi.

                                                                                          * * *

Handphone yang terletak diatas tempat tidur kamarku tiba-tiba berbunyi. Bergegas kuterima telpon dari nomor baru itu. Semula aku kaget “lho kenapa bisa ?”. namanya recky, Mahasiswa Universitas Negri Makassar ( UNM ) jurusan Seni Musik dan ia sangat menguasai alat music Violin/Biola. Kami bertemu beberapa kali setiap ada pementasan-pementasan yang diadakan PSK alias Pekerja Seni Kampus. Pertemuan kami biasa-biasa saja. Satu kali pun aku tak pernah ngobrol bareng. Hanya sebatas kenal muka.
Semula sih bicaranya hanya basa-basi. Lama kelamaan dia mengungkapkan perasaannya yang slama ini terpendam. Ternyata ia slalu memperhatikan aku dari jauh.

            “kenapa bisa kamu jatuh cinta sama aku ? akukan gak cantik” Tanyaku ketika telah mengungkapkan perasaannya.

            “Aku jatuh cinta karena diam dan kesabaranmu yang tak seperti perempuan pada umumnya. Entah mengapa aku merasakan ada kelembutan didalam dirimu. Aku ingin kamu jadi pacarku. Please…”. Jawabnya dan pintanya yang membuat aku tambah terperangah dan wwaaawwwuu…

            Sejak kecil aku tidak tegaan dan cepat kasihan sama seseorang. Tapi dengan penuh keberanian aku menolaknya dengan alasan yang jujur pula. “Maaf, aku tak bisa. Aku masih mencintai mantan kekasihku dan aku belum sepenuhnya melupakan dia. Dan aku tak mungkin jalan denganmu tanpa cinta”

            Meski aku sudah menolaknya tapi ia bersih keras menginginkan aku jadi pacarnya. Ia berusaha yakinin aku dengan beribu kata-katanya. Ia janji mau membawa aku untuk diperkenalkan ke orang tuanya, ia akan setia, dan serius menjalani hubungan. Bahkan ia bilang setelah lulus kuliah, ia akan datang melamarku. Tapi aku tidak segampang itu terpancing. Lidah manusia tak ada yang bertulang. Tak sepenuhnya bisa dipercaya.

            Dia semakin dan semakin berusaha menyakinkan aku akan dirinya yang benar-benar serius. Setelah kutolak lagi, dia memberiku waktu untuk berpikir kembali dengan harapan yang sangat besar tuk menerimanya. Aku setuju atas pemberian waktu itu. Aku perlu memikirkan banyak hal karena ini menyangkut masa depan yang suatu saat pasti kuhadapi.

            Sebelum ia mematikan telponnya, ada lagi satu janji yang tawarkan. Katanya, “kalau kita sudah resmi pacaran, aku janji akan mengajarimu baca not-not alat musik Biola. Aku akan menjadikanmu pemain biola wanita yang hebat. Terus aku akan ajak kamu mentas keluar kota sama anak-anak Seni Musik UNM.”

???

                                                                                          * * *


                                                                                                                                       Makassar, 23 September 2010 


Nb :     Setelah di tulisnya cerpen ini, violin tak kunjung memberi Lucky  jawaban. Ia lebih memilih lari dari masalah dengan mengganti nomor handphonenya, ketimbang ia harus memilih antara 2 hal yang sangat sulit. Impiannya menjadi seorang Biolis dengan menanam kebohonagn ataukah jalan tanpa cinta … 




Selasa, 17 Mei 2011

Beranda Cinta Yang Diam

  Akhirnya sampai juga di sebuah villa di Pucak Maros. Tujuan kami di tempat ini untuk acara perpisahaan aku dan teman-teman PPL dengan guru-guru pembimbingku, sekalian refreshing. Karna sebentar lagi kami akan meninggalkan lokasi atau sekolah dasar tempat kami melaksanakan Praktek Lapangan.

            Malam ini kuharap akan menjadi malam yang paling berkesan. Aku ingin meninggalkan kenangan terindah di tempat ini. Dan menuliskan sajak cintaku untuk seseorang yang kukenal di lokasi PPL (pelaksanaan praktek lapangan). Tapi entahlah, kurasa sangat sulit tuk kutafsirkan perasaannya padaku.

            Ada suatu waktu tepatnya di parkiran villa, aku dan salah seorang guruku bercerita panjang lebar tentang sebuah cinta. Lelaki yang masih lajang dan senang memakai jaket itu biasa kupanggil Pak Albir.  Ia bercerita tentang perasaan cintanya kepada salah seorang ibu guru yang biasa di panggil Ibu Nia. Ia sangat mencintai ibu nia meski ia tlah mempunyai kekasih.

Aku kemudian menanyakan “kenapa bapak tidak mundur saja atau mencari perempuan lain yang bisa mencintai bapak dengan tulus ?”.

            “Itulah yang susah buatku. Aku sayang dengan ibu nia. Apa lagi aku sudah di kenal oleh keluarganya. Walau dia tlah memiliki kekasih tapi aku masih ingin menjaganya. Aku tak ingin ia mendapatkan lelaki yang tak beriman. Apalagi lelaki yang hanya menjerumuskannya ke hal-hal yang negatif.” Jawabnya dengan keseriusan yang sangat nampak.

            Lelaki yang sudah umur 44 tahun itu juga mengaku pernah berkali-kali punya niat untuk melamar ibu nia tapi lagi lagi ibu nia menggantung jawaban dan perasaannya. Ibu Nia belum bisa menetapkan perasaannya kepada pak albir. Tapi ia masih menunggu ibu nia memberikan tempat yang terakhir di hatinya. Sungguh cinta memang gila. Hanya satu pesanku kepada pak albir sebelum pembicaraanku tentang cinta berakhir, ”Cinta tak harus memiliki namun jika sudah terlalu dalam di hati maka biarlah waktu yang menentukan segalanya.

            Kini tinggal aku sendiri di teras villa. Menikmati malam yang sunyi dengan memandang bintang. Sambil berhayal bisa menulis satu nama pada dinding langit. Hmm cinta memang gila … Lewat kegelapan tak hentinya aku memandang beranda di dekat villa. Di sana ada rafi sedang nongkrong dengan teman-teman cowok lainnya. Hmm apa perasaannya sama dengan apa yang kurasakan ? Rafi… Rafi… kenapa sih aku harus jatuh cinta dengan cowok yang sejaim dan susah di tebak seperti kamu. Lebih baik aku mencintaimu dalam hati saja kalau begini.

            Masih memandang beranda yang gelap itu. Tiba-tiba tanganku di tarik dari belakang. Teman-temanku mengajakku ke beranda itu. Di sana aku hanya diam, sesekali aku mencuri waktu untuk memandangnya. Aku tak tau mesti ngapain. Kupasang saja headset di telingaku. Aku mendengarkan musik sendiri sedangkan teman-temanku yang lain sibuk bercanda tawa. Entahlah apa yang mereka perbincangkan.

            Setelah sekian menit aku hanya asyik mendengarkan musik, tiba-tiba meraka membuat satu permainan “jujur berani”. Ketika tiba giliranku , satu pertanyaan pun terlontar dari telingaku. Pertanyaannya “apa kamu suka dengan Rafi ?”.
            Seketika wajahku memerah. Aku pun memberi banyak alasan, berusaha tuk keluar dari permainan ini. Tak mungkin aku mengatakan. Aku kemudian meninggalkan beranda itu dengan tak menjawab pertanyaan mereka. Setelah sejam aku menikmati suasana villa, teman-temanku ngajak ke beranda itu lagi. Sebenarnya aku sudah malu ke tempat itu. Entar di kirain aku agresif atau sok cari-cari perhatian untuk dekat dengan dia. Tapi temanku memaksa jadi aku ikut saja dengan mereka.

            Di beranda itu pula aku hanya diam sambil menikmati canda gurau mereka. Ternyata tidak lama kemudian ia melanjutkan lagi permainan “Jujur Berani” itu. Dan aku masih belum menjawab pertanyaan yang sama dari mereka. Meski Rafi sudah terlebih dahulu mengetahui jawabannya dari salah seorang teman akrabku. Permainan ini sungguh ingin mempermalukanku. Sudahlah biarkan pertanyaan itu berlalu bersama malam, kecuali dia yang duluan mengatakan perasaannya padaku.

             Biarlah beranda ini yang menyimpan jawabanku dan jawaban dari hatinya. Sikapnya sudah cukup memberikanku satu petunjuk tuk berhenti berharap. Walaupun begitu  tapi jujur aku masih ingin menikmati malam di beranda yang diam ini. Tapi sudah larut malam, mataku juga telah lelah dan ngantuk.

                                                                                             ***

            Keesokan hari, di pagi yang masih berembun, aku mencari sosok itu sambil menikmati sejuknya di villa ini. Aku menemukannya sedang duduk di teras sambil menikmati kopi. Kicauan burung dan mentari pun takkan sanggup mengalihkan pandanganku darinya. Akupun berusaha tuk menapiknya. Tak ingin lama menikmati pemandangan yang tepat di hadapanku ini. Takut jika kelak aku terjatuh kejurang rasa yang sangat dalam ketika tak bisa menggapainya. Karena harap bukanlah tinta yang selalu bisa terukir di atas lembaran-lembaran kertas kehidupan

Ketika sore telah menyapa gunung dan pepohonan yang asri, saat itu pula bersama gerimis kami beranjak meninggalkan villa dan Pucak Maros. Tapi aku yang saat itu di bonceng guruku terlebih dahulu meninggalkan rombongan.

                                                                                             ***

            Sejak pulang dari Pucak Maros, aku jarang lagi melihat rupanya di sekolah tempat PPL. Ada kabar yang tersiar dari salah seorang teman bahwa persoalan akademiknya di kampus yang mengancamnya cuti kuliah begitu menguras tenaga dan pikiran sehingga dia jatuh sakit. Gejala tipes merengguk waktuku di saat-saat akan jarang melihat sketsa wajahnya lagi.
            Esok adalah hari perpisahan mahasiswa PPL dengan sekolah. Malamnya segala macam kegiatan dan mendekor ruangan tengah dipersiapkan. “harusnya Rafi ada di sini”, kataku dalam hati sambil menempel gambar bintang pada dinding-dinding panggung. Sungguh tak semangat rasanya.
            Stengah jam kemudian aku dan temanku nunu’ pergi mengambil baju bodo (pakaian adat Bugis-Makassar) yang letaknya tidak jauh dari kampus. Di tengah perjalanan handpone nunu’ berdering. Aku tak tau dari siapa dan apa yang mereka bicarakan. Tapi yang sempat aku dengar nunu’ berkata “tunggu, 5 menit lagi aku ke sana”.

            “dari siapa Nu’ ? tanyaku dengan penasaran.
            “dari sepupunya Rafi. Katanya Rafi mau diantar ke puskesmas terdekat karna demamnya sangat tinggi.” Tutur nunu’ yang beranjak menuju parkiran motor.
            “jadi kita sekarang kesana ?” tanyaku.
            “(lama berpikir) tunggu saja aku di kampus. Aku akan mengambilmu kembali setelah aku telah mengantar rafi ke puskesmas.” Pintanya.
            “tapi kenapa aku tak ikut saja ke kost Rafi ?”
            “mmm … baiklah. Tapi kumohon, persiapkan dirimu dan jangan terlalu kentara bahwa kau menyukainya. Bisa ?”
            “mmm … oke. Tapi kenapa ?” tanyaku kepada Nunu’ dan diam sebagai jawabannya.

            Ada rasa lain yang berdebar di hatiku ketika telah sampai di teras rumahnya.  Tanpa berlama-lama nunu’ segera memasuki kamar kostnya. Rencana aku takkan masuk. Makanya aku hanya berdiri dan bersandar pada dinding kamar kost Rafi. Sesekali aku mendengar perbincangan Nunu’ dan Rafi. Dalam hati aku berkata, “kenapa aku bisa ada di tempat ini ?”.

            “Kenapa diluar ? ayo masuk !! … ”.
            Suara itu mengagetkanku yang tengah terlamun merekam suara Rafi dalam imajinasi. Suara itu muncul dari belakangku. Aku pun menoleh.
            “Iya kak, aku di sini saja. Makasih.” Jawabku pada perempuan yang berjilbab sampai pinggang itu.
            “ayo masuk”, Paksaanya.
            Akupun masuk dan hanya duduk diam pada kursi yang berada tepat di samping tirai kain berwarna ungu sebagai dinding pemisah antara ruang tamu dan tempat tidur Rafi. Dalam hati tak hentinya aku menanyakan siapa perempuan itu. Dari tadi dia sangat sibuk merawat Rafi. Bahkan sampai memarahi nunu’ kalau Rafi datang di acara perpisahan sekolah besok. Ah, mungkin saja dia saudaranya.

            Walau tak bertemu wajahnya di balik tirai ungu itu, tapi aku sempat megucapkan beberapa kalimat untuknya. “Rafi, aku pulang. Met istirahat n smoga cepat sembuh”. Kataku dengan detakkan jantung yang sulit kukendalikan.

            “trimakasih” ucapan terakhirnya yang begitu lembut terdengar dan menggema dalam ingatanku.

Di atas motor, aku kembali menanyakan perempuan itu kepada nunu’. Ternyata dia pacar Rafi sekaligus sepupunya. Anak dari pemilik rumah yang di tinggali Rafi. Sebab itulah nunu’  tadi sempat tak mau mengajakku ikut kerumah Rafi. Nunu’ tau betul bagaimana perasaanku. Dia hanya tak ingin aku kecewa. Dan aku kembali mengatakan “nunu’, cinta tak selamanya memiliki. Sejak pertama bertemu, aku hanya mencintainya dalam diamku. Aku hanya ingin menikmati senyum dan bahagianya. Maka sakit dan kenyataan itupun harus kunikmati dalam diamku pula. Walau dia tlah punya kekasih, aku tetap mencintainya dalam diamku.”

Dalam perjalanan yang tidak jauh dari rumah Rafi.
Nu’, Hentikan motornya. Itu pohon papaya kan ? tanyaku kepada nunu.
“iya, itu pohon papaya”.
Aku pun segera turun dari motor dan mencari pemilik pohon itu.
“pak, boleh aku minta daun papaya yang ada di dekat rawa-rawa itu ? 5 lembar saja” pintaku dengan memohon.
”iya silahkan. Ambil saja tapi hati-hati karena di situ banyak pecahan beling kaca”
“iya, makasih pak”.

Aku dan nunu’ kembali ke kost Rafi. Rebusan daun papaya bisa menurunkan demam dan mengurangi gejala-gejala tipes. Hanya nunu’ yang masuk memberikan daun papaya itu kepada perempuan yang ada dalam kamar Rafi. Sedangkan aku hanya menunggu di motor.

“kekasih dalam hatiku, Smoga kamu cepat sembuh”.
                                                                                             ***
            Aku tak menyangka dia datang di acara perpisahan. Semangatku kembali merona. Meski dia masih terlihat pucat. Setelah hari ini mungkin akan ada banyak rindu di tiap harinya yang kan mempermainkanku. Aku mencintaimu dalam diamku. Walau cinta kali ini tak berpihak pada kita tapi terima kasih tlah menjadi inspirasiku.

Melodi Cinta Violin

  16 Mei 2011 jam 22:19
Karya : Andhika Fajar



Alunan melodi yang sangat indah. Aku menoleh disetiap sudut ruangan, di sela taman-taman yang dedauannnya  sudah makin lebat. Dengan harap menemukan sumber suara itu. Kucari dan terus kucari dengan langkah yang sendu. Aku merasakan adanya makna kesedihan. Aku tau siapa yang memainkan alunkan melodi tersebut.

Tampak dari kejauhan, kulihat ia sedang menyendiri di sudut kesunyian. Namanya Alan, kakak seniorku di kampus UMM. Sekaligus juniorku di lembaga seni IPASS. Ia memainkan biolanya seakan penuh amarah. Aku tak mendekatinya. Aku hanya mengamati senyumnya yang mulai padam. Sejak aku mengatakan, “maaf, aku tak bisa mencintaimu”.

Sejak saat itu hanya ada wajah-wajah sunyi di harinya. Meski dulu kami sempat menjadi sepasang merpati yang terbang mencari singgahsana terindah. Namun aku terpenjara oleh bayang kekasih masa lalu yang masih menghantuiku dan satu nama yang masih terukir dalam memoriku.  Aku terpaksa harus mengakhiri kebahagiaannya. Aku tak ingin tumbuh dan hidup diantara kegersangan yang masih membayangkan sejuknya kenangan.

Aku sadar aku memang jahat. Datang dikehidupannya lalu pergi dengan egoisnya. Semula aku mengira dengan semua kepribadiannya yang begitu baik, aku bisa belajar mencintainya dan bisa melupakan dia yang telah membuangku disudut-sudut malam.

Ternyata tak semudah itu. 6 bulan aku belajar dengan tulus mencintainya tapi terasa sangat sulit. Aku juga tak mau membohongi perasaanku dan perasaannya. Bahwa yang ada di hatiku bukanlah dia tapi orang lain.

“Puas ?... sudah puas menyakiti hatinya ?  Tanya itu muncul dari belakangku. Akupun menoleh. Ternyata dia salah satu seniorku di IPASS (Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra). Aku hanya sering memanggil dia dengan sebutan Daeng, dalam bahasa Makassar berarti kakak. Akupun balik bertanya, “maksudnya ?.”

“Violin, daeng bertanya sama kamu. puas kan menyakitinya ? habis manis sepah dibuang. Katanya sambil duduk di pinggiran taman.”

Aku benar-benar tidak tau maksud daeng ! tanyaku dengan duduk disampingnya.

“Oh ternyata kamu dekati dia hanya ingin di ajar main biola. Mencampakkan dia, apa itu  balasanmu ? Setelah kamu diajari sampai pintar main biola lantas kamu memutuskan hubungan dengan dia ?.”

Daeng bukan orang pertama yang mengatakan seperti itu. ehmmm… (menghembuskan nafasku dalam-dalam) Astagfirullah…kenapa sampai orang-orang berpikiran seperti itu termasuk daeng ?  tak ada sedikitpun niatku untuk seperti itu. Aku mulai serius belajar main biola setelah aku putus. Daeng, Aku berani bersumpah kalau aku dekat dengan alan bukan karena biola. Terserah daeng mau berpikir tentang apa, yang jelas pernyataan daeng dan teman-teman itu sangat salah.
Aku kemudian berlari meninggalkan taman itu dengan perasaan berkecamuk. Dari kecil aku memang selalu bermimpi untuk memainkan alat musik biola, tiap malam aku bermimpi menyentuh biola tapi aku tak mungkin mengunakan cara seperti ini, apalagi dengan  menyakiti seseorang.

Senja kini kembali kepeluk malam. Namun aku masih ingin membelah malam-malam di pinggir jalan aspal jalan raya. Berjalan seperti tanpa arah. Langkah itu terasa sangat kosong, entahlah. Pikiranku melayang entah kemana arahnya. Lampu-lampu kota yang menetapkan jejaknya, klakson kendaraan begitu bising di telinga, asap kenalpot yang merugikan, aku muak… (teriak), aku muak, aku muak dengan semua ini.

* * *

            Tut…tut…tut…
            Assalaamu alaikum…dengan alan yah ?
            “iya, ini dengan alan. Ada apa Lin ?”
            boleh minta tolong gak ? 3 hari lagi aku mau tampil main biola di miladnya SKETSA. Aku mau pinjam biola IPASS. Boleh tidak ?. Tanyaku.
            “ohh, sebenarnya besok biola dipakai mentas di Takalar Gowa. Tapi besok aku pinjamin biolanya Karin untuk kamu pake latihan dulu. Pulang dari Takalar baru aku kasih biolanya Ipass.”
            Atau aku saja yang pergi pinjam ke Karin, kalau perlu aku sewa deh biolanya?. Tanyaku.
            “aku saja besok yang datang pinjam. Pagi-pagi tunggu saja  didepan perpust kampus.”
            Oh, yah udah. Terserah deh. Kak, makasih yah.

* * *

            Esok aku akan tampil dipementasan yang tidak hanya ditonton mahasiswa UMM tapi  tamu-tamu dari kampus Universitas lain sekitar kota Makassar juga bakal hadir. Deg-degkan sih, tapi ini bukan yang pertama kalinya aku tampil.

            Sambil menggendong tas biola, aku menuju tempat latihan. Namun sebelumnya aku pemanasan dulu biar tidak terlalu tegang.

            “Ulfa, boleh minta tolong tidak ? tuk jagain biola ini sampai aku selesai olahtubuh ? please, soalnya disini tidak ada siapa-siapa yang bisa dimintai tolong selain kamu.”
            “Yah udah, sini biolanya !.” Kata ulfa.
            Jagain yah ? pintaku
            “Iya…”.

            Belum selesai olahtubuh, aku dihentikan oleh sebuah kejadian yang tak pernah kusangka sebelumnya. Teman yang sudah kuanggap sebagai saudaraku di Ipass sekaligus pacar Karin membawa biola itu pergi tanpa sepengetahuanku terlebih dahulu, setidaknya ia menemui aku sebelumnya karena aku juga ada ditempat. Mengingat kalau besok aku sudah tampil dan aku belum pernah latihan. emosiku seketika  membludak, meluap tak tertahankan. Apalagi menatap perlakuan pacar Karin yang sama skali tidak menghargaiku.

Aku kemudian mengirimkan pesan singkat dari handphone. Dan kami bertengkar hebat didalam SMS itu. Aku akui kalau pernyataanku dalam SMS itu terdengar kasar, tapi itu adalah sebuah kenyataan pahit yang bercampur dengan luapan emosi. Aku sama skali tidak dihargai. Padahal aku hanya ingin tau dimana letak kesalahanku. Mengapa biola itu dibawanya lari.

                                                                 ((((((((((((( B E R S A M B U N G ))))))))))))))))