Jumat, 18 Februari 2011

Senja Di Sela-Sela Ranting

oleh Dhika pada 28 Februari 2010 jam 9:02

“ Maaf bila keputusanku ini akan melukai hatimu.
Aku harus pergi dari hatimu, dan tak bisa lagi
menyayangimu…”

Pengirim;
+6281301021987
01:18:45
19-02-2009

Pengirim pesan ini adalah seorang “ pengecut ” . Dia pergi setelah menggoreskan luka yang sangat dalam. Yah, sangatlah dalam. Dan begitu perih.

Sering kubertanya pada senja disela-sela ranting, “ Mengapa dia datang kalau akhirnya dia akan pergi juga dari hatiku ? “ . Mungkin pertanyaanku itu terlalu egois. Tapi dia lebih egois lagi. Karena mengambil keputusan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kepadaku nanti. Terlebih lagi, dia pergi dari hatiku tak membawa semua kenangan yang pernah ia rajut bersamaku. Tak membawa cinta dan kasihnya yang pernah ia tanam didasar hatiku. Cinta yang sekarang seakan jadi bumerang untuk diriku sendiri.

Betapa jahatnya dia, merampas satu hati ini lalu membuangnya di sudut-sudut malam. Membuangnya untuk diperebutkan kedewi-dewi malam yang lalu melepaskan panahnya tepat di jantungku. Aku terkulai lemah, dan perlahan kutata lagi ritme nafasku.

Entah, lautan yang tak cukup menampung air mataku ataukah kesetiaanku yang tak pernah ada artinya ? Karena aku hanya tak ingin cintanya karang disamudera lepas dan terus terlena dengan kecantikan anjing-anjing kemaksiatan. Berusaha memasung kebodohannya yang berjalan diatas langit-langit penghianatan. Namun sajak-sajak kesetiaan dan ketulusan yang selalu kulantungkan seolah tak pernah cukup untuk mengelabui tiap langkah hitamnya. Dan pasti selalu saja berakhir dengan genangan air mataku.

Ah sudahlah, aku sangat takut mengingat semua itu lagi. Biarkan kisah bersama dewi-dewi malamnya itu terbang bersama abu, bekas pembakaran kekecewaanku. Dan aku akan meminta bantuan angin untuk membawanya pergi, saat bulan purnama menari dengan tarian iblis. sebab aku tak ingin lagi ada air mata duka & luka. Melepas semuanya, meski terasa berat bagiku.

Angin,
bawalah seluruh keping-kepingan cinta ini
Terbang bersama kepakan-kepakan sayapmu
Biar amarah terombang-ambing di langit sana
Karena raga dan jiwa ini terlalu lemah untuk ku timang
Menopang badai dirahim cinta
Apalagi bayang dan suaranya masih menggema dinuraniku
Kalimat-kalimat yang menyeruak dari bibirnya,
Kalimat semu yang slalu ia banggakan
Saat memulai permainan atas nama cinta
Harap berlalu seindah pelangi, biarlah hanya jadi hayalan.

* * *

“ Hari ini terasa sangat beda setelah apa yang terjadi. “
. Kemarin aku dapat menyapanya dengan cahaya cinta dan juga sebaliknya.Dia menyapaku dengan sajak-sajak cintanya. Bermekaran diantara musim, di antara matahari dan rembulan, diantara malam dan diantara mentari yang tak pernah terlambat bersinar.
Namun seiring waktu, cahaya yang kutemui dimatanya kini seolah redup. Bahkan tak lagi kutemui diselangkangan-selangkangan cintanya yang kubalut dengan ketulusan. Dan dia tak lagi mengilhami sisi ruang hatiku.
Dalam mimpi, aku masih sering menyapanya dalam kegelapan. Menaburkan kelopak-kelopak bunga dalam rangkulan imajinasi. Bahkan sampai kuperintahkan malaikat cinta tuk menjaga bayang masa lalu yang masih mengikutiku. Yah, mungkin sekarang aku harus berdamai dengan kenyataan. Kenyataan yang merenggut habis sluruh kisahku. Karena aku tak pernah membayangkan sebelumnya, bahwa harus sampai di sinilah episode tentangku dan dia. Walau ada harap, bahwa semua itu kan berlalu seperti pelangi.

***

“ Aku sangat merindukannya …”

“ Tuhan, seandainya suatu saat aku tak lagi bersua dengannya, apakah aku masih dapat tetap bertahan ? Tuhan, mengapa rindu ini harus hadir ? Pantaskah aku merindukan kekasih hatiku yang sekarang sudah jadi milik orang lain ?

Mengapa jawaban dari pertanyaan itu tak pernah sanggup terucap dari bibirku ? Apakah karna sulitnya menemukan asa dibalik kebencian yang melekat pada bayang masa lalu ? Dan akhirnya bermuara pada kebekuan dan kemunafikan ?

Warna senja tiba-tiba merekah di wajahku dan mulai memenuhi sisi ruang lewat sela-sela jendela. Bersama aroma hujan yang begitu menyengat kalbu, senja itu perlahan menuju peraduannya. Dan beranjaklah malam yang mulai memarerkan kegelapannya pada cakrawala. Tiap hari aku melewati dan menikmati malam dengan bisikan sepi. Dengan harap, angin akan menyampaikan pesanku pada rindu yang tersesat di kenangan masa lalu…

Bahwa “ aku merindukanmu “

Bintang tiba-tiba mengedipkan matanya diantara cahaya rembulan. Seolah menafsirkan kalau rindu yang bersemayam dilubuk hatinya yang terdalam, sama gemuruhnya dengan rinduku. Namun ada yang hidup diantara selangkangan rindu kami. Rindunya terkurung dalam sangkar kemunafikan, sedang rinduku teranyam bersama puing-puing kebencian, karna mempertahankan harga diriku sebagai sosok yang tersakiti.

Berbicara tentang rasa rindu ini, aku teringat pada sebuah lagu tahun 70an yang dinyanyikan oleh Bruery Marantika dan Dewi Yull, yang berjudul “ Rindu Terlarang “


“ Tak perlu engkau tau, rasa rindu ini.
Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia.
Namun andai kau dengar syair lagu ini
Jujur saja, aku sangat merindukanmu.
Memang tak pantas menghayal tentang dirimu
Sebab kau tak lagi seperti yang dulu
Kendati berat rasa rinduku padamu
Biarkan kuhadang, rinduku terlarang.
Kupuisikan rindu di hatiku
Kuharap tiada seorang pun tau…”


Saat ini aku sangat menggilai lagu itu. Entah, karena irik dan maknanya yang begitu dalam ataukah lagu ini seperti gambarkan perasaanku.

Sontak aku bertanya lagi, Sekarang mau aku apakan rindu ini ?...



Makassar, 08 April 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar